Minggu, 19 Mei 2013

kumpulan penyakit tropis pediatri


DIFTERIA

Definisi :
-      infeksi akut
-      Corynebacterium diphtheria

Etiologi :
-        Corynebacterium diphtheria
-        (Klebs loefler)
-        Gram (+)
-        Polimorph
-        Tak bergerak
-        Tak berspora
-        Warna putih kelabu (media Loefler)
-        Media telurit :
·       Mitis             :  licin, hitam, convex
·       Gravis          :  kelabu, setengah kasar
·       Intermedius        :  kecil, licin, dengan tali pusat hitam

Epidemiologi
-      diseluruh dunia
-      menurun karena vaksinasi
-      ditularkan oleh
o  penderita
o  carier
o  cara : droplet
 muntahan
 debu
Patogenesis / patologi :
-      masuknya kuman :
o  hidung / mulut
o  kulit
o  conjunctiva
o  genitalia
o  telinga

Inkubasi :
2 – 4 hari ( 1 – 7 hari ) à produksi toksin à membran yang terdiri dari :
-      fibrin
-      lekosit
-      eritrosit
-      epitel mukosa
Membran sukar diangkat, mudah berdarah, putih kelabu

Toksin : menyerang setiap organ / jaringan terutama
-      jantung
-      saraf
-      ginjal

Manifestasi Klinis :
Tergantung pada :
-      lokasi
-      status imunisasi
-      toksin sudah / belum masuk sirkulasi darah
Pembagian
Berdasarkan lokalisasi
-      nasi
-      tonsil
-      pharynx
-      larynx / laringotracheal
-      conjungtiva
-      kulit
-      genital
-      telinga

Berdasarkan berat ringannya
-      ringan    : kulit, genital, telinga, conjunctiva, hidung
-      sedang   : tonsil, pharynx
-      berat       : tonsil, pharynx, larynx + bull neck
-      sangat berat : berat + sangat toksik

Difteri nasi
-      menyerupai common cold
-      kemudian :
o  sero sanguinous
o  mucopurulent
o  excoriatio pada hidung dan bibir atas
o  berbau
o  pseudo membran



Difteri tonsil dan pharynx
-      mula – mula :
o  anoreksia
o  malaise
o  panas ±
o  pharyngitis
-      terbentuk membrane mula pada tonsil, bisa ke pharynx, larynx, trakea
-      pembesaran kelenjar regional leher dan oedem jaringan sekitarnya (Bull neck) ± 30%
-      teraba panas, nyeri dan oedema pitting

Pada kasus berat dapat terjadi
-      kolaps sirkulasi
-      paralisis palatum
-      neuritis lain
-      myocarditis

Difteri larynx
-      75% lanjutan dari pharynx
-      25% langsung pada larynx
-      gejala klinik :
o  stridor
o  parau / serak
o  batuk kering
o  retraksi : supra sternal, subcostal, supra clavicular

Difteri kulit
-      ulcus, tepi tumpul
-      membran pada dasarnya

Difteri conjunctiva
-      conjungtiva palp
-      merah
-      oedema
-      pseudomembran

Difteri telinga
-      otitis externa
-      berbau
-      purulen

Diagnosa
-      gejala – gejala / tanda – tanda klinik
-      pasti :
o  corynebacterium diphtheria
o  immunofluerescent antibody
-      pembantu
o  lekosit N / sedikit meningkat
o  kadang anemia
o  perubahan ECG
-      Shick test : untuk menentukan status imunitas penderita


DD :
Difteri nasi
-      common cold
-      corpus alienum hidung
-      sinusitis
-      adenoiditis
-      syphilis pada hidung

Difteri  tonsil / pharynx
-      tonsillitis follicularis
-      mononucleosis infectiosa
-      blood dyscrasia (agranulositosis , leukemia)
-      post tonsillectomy (membran)

Difteri larynx
-      laryngitis akuta
-      epiglotitis akuta
-      laryngotracheobronchitis
-      corpus alienum larynx
-      abses retropharyngeal

Komplikasi
-      obstruksi jalan nafas
-      myocarditis
-      komplikasi saraf



Pencegahan
-      imunisasi DPT
-      isolasi penderita
-      pengobatan carier

Kriteria Jackson
Dyspnoe larynx progresif
Stadium I
-      cekungan ringan suprasternal
-      penderita tenang
Stadium II
-      cekungan ringan suprasternal à lebih dalam
-      cekungan epigastrium
-      penderita mulai gelisah
Stadium III
-      + cekungan supra / infra clavicular + intercostals
-      penderita gelisah, sesak nafas
Stadium IV
-      gejala stadium III
-      sangat gelisah / sangat sesak
-      seperti ketakutan, pucat, sianosis
à STADIUM II – III à Indikasi tracheostomi

Pengobatan :
1.   Menetralisir toksin
2.   membunuh kuman


Ad.1   ADS
        Ringan   : 20.000 u
        Sedang   : 40.000 u
        Berat               : 60.000 u
Sangat berat : 80.000 – 100.000 u

Ad.2  Antibiotik
-          Penicilin prokain
-          Erytromycin
-          Amoksisilin
-          Rifampisin
-          Clindamycin















DIFTERI  è PENATALAKSANAAN DAN PENCEGAHANNYA

PENDAHULUAN
·       Difteri – negara berkembang
·       Dapat dicegah, CBD
·       Infeksi à toksin lokal / umum
·       Inkubasi 2 – 4 hari
·       Dx klinis à obati

Difteri tonsil + farings
·       gejala I tidak khas
·       Dalam 24 jam à membran fausial
·       Paling sering (± 75%) ± Bullneck
·       Parese palatum molle
·       Lab : Hb , leko , albumin
   urine : ± Alb

Difteri larings + trakhea
·       ± 25%
·       75% lanjutan D. farings + tonsil
·       serak, stridor, sesak
·       bullneck, membran pada larings
·       ringan à (-) 6 – 10 hari
·       berat à anoksemia



Difteri Hidung
·       Jarang (±2%), ringan
·       Pilek, campur darah

Difteri kulit
·       Ulkus berbatas jelas
·       Membran putih / abu – abu

Difteri konjungtiva
·       Pseudomembran
·       Oedem konjungtiva

Difteri vulvovaginal
·       Ulkus batas jelas
·       Membran putih / abu – abu

PENATALAKSANAAN
1.   Isolasi penderita
-        Penularan : droplet
Kontak
-        Isolasi sampai biakan 2x (-)
2.   ADS
-        Dx klinis
-        Ringan : 10.000 – 20.000 u
-        Sedang : 40.000 u
-        Berat : 60.000 u
-        Sangat berat : 80.000 – 100.000 u

ADS dapat à anafilaktik
-        tes kulit    1/1000 I.K
(+) 20’ indurasi > 10 mm
-        tes mata  1/10, 1 tetes
+ 20’ à kemerahan
-        bila tes (+) à besredka

BESREDKA (tiap 20’)
-        0,05 ml larutan 1/20 S.K
-        0,1   ml larutan 1/20 S.K
-        0,1   ml larutan 1/10 S.K
-        0,1   ml tanpa pengenceran S.K
-        0,3   ml tanpa pengenceran I.M
-        0,5   ml tanpa pengenceran I.M
-        0,1   ml tanpa pengenceran I.V
-        sisa I.M / I.V 1/20, 15 gtt/m

3.   Antibiotika
PP 50.000 u/KgBB/hr
ERITROMISIN   50 mg/kgBB/hr
AMOKSILIN       50 mg/kgBB/hr
RIFAMPISIN      10 – 15 mg/kgBB/hr
KLINDAMISIN    50 mg/kgBB/hr

4.   Suportif
Bed rest 2 mg I
Aktifitas sesuai hasil pemeriksaan
Makanan cair / lunak, kalori
Aspirin
Pengisapan lender
Uap air hangat
trakheostomi

5.   Pengobatan komplikasi
-      Obstruksi laring :     isap lender
Uap air
Trakheostomi
-      miokarditis :     
istirahat total
digitalis controversial + block à alat pacu
  alupent
-      neuritis (17%)
a     par. Pal molle
a     gangguan akomodasi
a     par fasialis
a     par esktremitas
a     par pernafasan
6.   Pengobatan carier
Isolasi 7 hari + antibiotika

Pencegahan
  1. isolasi penderita ( 2x - )
  2. kontak :  klinis (+) à obati
klinis (-) à antibiotic
imunisasi
  1. imunisasi
TETANUS

Definisi :
-      keracunan mendadak
-      racun tetanospasmin
-      dihasilkan oleh kuman tetanus

Etiologi :
-      Clostridium tetani
-      Gram (+), anaerob, berspora
-      Tahan panas, † dalam autoclaf
-      Hidup bertahun – tahun ditanah
-      Juga : debu rumah, garam, air, kotoran binatang, usus manusia
-      Bentuk vegetatif : tidak tahan panas, desinfektans
-      Tidak invasif, masuk melalui luka à produksi
§  Tetanolysin
§  Tetanospasmin

Epidemiologi
-      diseluruh dunia
-      terutama negara berkembang, oleh karena mudah
§  kontaminasi
§  kurang kebersihan
§  kurang perawatan luka
Patogenesis
-      kuman masuk melalui luka
-      berkembang biak   Anaerob / hypaerob
-      bebaskan toksin
-      Luka
§  Tusuk
§  Bakar
§  OMP, caries, luka lecet
§  Gigitan serangga

Tetanospasmin capai saraf melalui
1.   Myoneural junction – axis silindrik – SSP
2.   susunan limfatik – darah – SSP

-      Bersifat antigen, mudah diikat oleh saraf dan tidak dapat dinetralisir
-      Bila masih dalam darah à dapat dinetralisir oleh anti toksin

Manifestasi klinik :
-      inkubasi : 3 – 4 hari, bisa 1 – beberapa bulan
-      3 bentuk tetanus
§  lokal
§  umum
§  cephalic


Tetanus lokal
-      lokal proksimal luka à nyeri, tegang, spasme otot – otot
§  beberapa minggu
§  † 1 %

Tetanus umum
-      mendadak – ketegangan otot, leher / rahang
-      dalam 48 jam à nyata
o    trismus
o    kaku kuduk – opistotonus
o    spasme otot dinding perut
o    kejang umum tonik
o    risus sardonicus
o    sukar menelan, gelisah, nyeri, mudah terangsang
o    spasme yang khas
o    asfiksia dan sianosis
o    panas
o    lekositosis ringan

Menurut berat / ringan dibagi 3 stadium :
-      Ringan
o  Trismus ≥ 3 cm
o  Tanpa kejang umum
o  Walaupun dirangsang

-      Sedang
o  Trismus < 3 cm
o  Dengan kejang umum
o  Dengan dirangsang
-      Berat
o  Trismus ≤ 1 cm
o  Kejang umum
o  Spontan

Cephalic tetanus
-      jarang
-      setelah OM, luka dikepala / wajah
-      corpus alienum hidung
-      gejala disfungsi N III, IV, VII, IX, X dan XI à tersering N VII
-      bisa tetanus umum

Diagnosis
-      anamnesis : luka, kejang, kejang yang spesifik
-      pemeriksaan

DD :   -  keracunan strichine, otot rahang (-)
-      tetani : Ca dan P
-      Meningitis : LP
-      Rabies : gigitan anjing, tanpa trismus
-      Angina berat
-      Abses retropharyngeal / gigi
Komplikasi
-      aspirasi à Pneumonia
-      asfiksia
-      ateletaksis
-      compression fraktur

Prognosis
-      dipengaruhi beberapa faktor
-      buruk pada
o  inkubasi pendek (< 7 hari)
o  usia muda (neonatus)
o  frekuensi kejang yang banyak
o  febris
o  terlambat pengobatan
o  period of onset pendek
o  adanya komplikasi

Pencegahan
1.   cegah luka
2.   perawatan luka adekuat
3.   ATS profilaksis
4.   toksoid tetanus
5.   antibiotik
6.   imunisasi aktif



Pengobatan
1.   ATS
2.   anti konvulsan
3.   antibiotik
4.   makanan
5.   isolasi
6.   O2 dan nafas buatan
7.   tracheostomi

TETANUS NEONATORUM

-      melalui tali pusat
-      bayi

·       tidak mau menetek
·       panas
·       mulut mencucur
·       kejang – kejang
·       sianosis

-      Pengobatan :
§  IVFD / sonde
§  ATS 5.000 U
§  Anti konvulsan
§  Antibiotic
§  Trachostomi
§  02, nafas buatan
-      Pencegahan : toksoid tetanus pada ibu, tali pusat secara steril
-      Komplikasi : bronkopneumonia, asfiksia + sianosis, obstruksi jalan nafas
PERTUSIS

Sinonim =  Batuk rejan, batuk 100 hari, tussis quinta, whooping cough

Definisi : infeksi saluran nafas akut.

Etiologi :
-        hemophillus influenza
-        bentuk batang
-        tidak membentuk spora
-        tidak bergerak

Epidemiologi :
seluruh dunia = semua umur (2 mgg – 77 tahun)
>

Manifestasi Klinik :
-        inkubasi : 6 – 20 hari, rata-rata 7 hari
-        berlangsung 6 – 8 minggu atau >
-        3 stadium :
o  cattarhalis
o  paroksismal / spasmodik
o  convalesensi




Terdiri atas beberapa stadium:

1.   Stadium catarhalis, ISP atas, awal batuk malam kemudian siang-malam selama 1-2 minggu
2.   Stadium spasmodik, ditandai dengan:
a.   Durasi 2-4 minggu
b.   Selama 5-10 hari mengalami whooping cough
c.    Batuk dulu non stop kemudian tarik nafas panjang baru kemudian muntah, keluar makanan dan lendir
d.  Dapat terjadi sianosis
e.   Dapat berak-berak, kencing-kencing
3.   Stadium kovalesensi, ditandai dengan:
a.   Durasi 1-2 minggu
b.   Gejala sudah berkurang
c.    Bunyi ronki hilang
d.  URI dapat meningkat atau batuk

DIAGNOSIS
-        Anamnesa
-        Gejala khas
-        Periksa laboratorium:
o  Leukositosis 20.000 – 50.000 / mm3
o  Limfositosis
o  Menemukan biakan kuman



DIFFERENTIAL DIAGNOSA
-        Trakeobronkitis
-        Bronkitis
-        Bronkiolitis
-        Pneumonitis
-        Parapertusis

KOMPLIKASI
Saluran nafas:

  • Otitis media
  • Bronkitis
  • Bronkopneumoni
  • Atelektasis
  • Emfisema
  • Bronkiektasi
  • Aktivasi TBC



Saluran cerna:
  • Prolaps rektum
  • Hernia
  • Ulkus pada lidah
  • Stomatitis
Sistem Saraf Pusat:
  • Kejang
  • Edema Otak
  • Perdarahan otak


Lain-lain:
  • Epistaksis
  • Hemoptisis
  • Perdarahan subkonjungtiva




PENCEGAHAN
-        Imunisasi aktif pada bulan ke-3,4,5, setahun kemudian, dan pada umur 5 tahun
-        Isolasi dari kuman
-        Imunoglobulin 1,5 mL IM diulangi 3-5 hari

PROGNOSA
-        Tergantung ada tidaknya komplikasi
-        Makin muda usia, makin jelek prognosa karena umur muda mudah terjadi komplikasi
-        Tergantung status imun
-        Tergantung cepatnya diobati

TERAPI
-        Antibiotik: Eritromisin 50 mL/kgBB/hari dalam 4 dosis terbagi selama 5-7 hari, kloramfenikol, tetrasiklin
-        Obat batuk
-        Penenang
-        Biasanya batuk masih ada walaupun kuman sudah mati à stop pemakaian antibiotika







PAROTITIS EPIDEMIKA

Disebabkan oleh Paramyxo virus

DEFINISI
-        Parotitis epidemika adalah penyakit infeksi virus akut yang dapat menular
-        Terdapat pembesaran kelenjar liur (parotis)

EPIDEMIOLOGI
-        Terdapat di seluruh dunia
-        Dapat menjadi suatu endemik atau epidemik
-        Kontak langsung maupun droplet maupun melalui urine
-        Virus diisolasi dari faring 2  hari sebelum 6 hari sesudah pembesaran kelenjar
-        Imunitas seumur hidup

PATOLOGI
-        Saluran liur + pembesaran sel epitel
-        Dapat membesar dan menyumbat saluran
-        Pada testis terjadi perdarahan-perdarahan kecil, skelrosis sub epitel tubulus
-        Pada pankreas, dapat terjadi nekrosis
-        Bayi umur 6-8 bulan tidak terinfeksi

SIFAT KHAS
-        Masa inkubasi 14-24 hari (17-18 hari)
-        Stadium prodromal pendek, 1-2 hari, ditandai dengan demam ringan, sakit kepala, suhu 38,5-39,5o C.
-        Pembesaran kelenjar parotis uni- atau bi- lateral
-        Nyeri spontan pada perabaab
-        Terutama makan/minum asam
-        Daerah parotis terlihat kulit warna kecoklatan disertai nyeri apabila ditekan
-        Telinga terdorong ke atas
-        Trismus/disfagia jarang
-        Muara duktus Stenson: merah dan edema
-        Pembesaran kelenjar lebih dari tiga hari akan mengecil kembali
-        Kadang kelenjar sub maksilaris/sub lingualis juga terkena

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Leukosit normal (atau relatif meningkat leukositosis
Complemen fixing antibody test
Neutralization test
Isolasi virus
Uji intra dermal
Kadar amilase serum yang meningkat

DIAGNOSA
-        Berdasarkan pemeriksaan fisik
-        Leukopenia, limfositosis relatif
-        Peningkatan kadar amilase serum
-        Virus dalam saliva, urin, liquor, darah
-        Serum neutralizator test
-        Titer komplemen fixing antibody test

DIFFERENTIAL DIAGNOSA
-        Infeksi coxachie virus
-        Limofositik dwioneulitis
-        Supuratif parotitis
-        Recuren parotitis karena alergi
-        Obstruksi batuk pada saluran kelenjar parotis

KOMPLIKASI

meningoencephalitis
epedidimoorhitis
Oophoritis
Nefritis
Tiroiditis
Miokarditis
Artritis
Hepatitis
Kelainan Kongenital


PENCEGAHAN
Imunisasi aktif (MMR/Trimovax)

PENGOBATAN
Simptomatik
Supuratif

PROGNOSIS
-        Baik
Menimbulkan kematian karena: ensefalitis, miokarditis, nefritis (umumnya jarang)
VARICELA = CHICKEN POX

Bersifat akut, menular, vesikel di kulit / mukosa oleh virus

ETIOLOGI : Herpes virus varisela

EPIDEMIOLOGI
sangat menular, percikan ludah / kontak
penularan 1 hari sebelum erupsi sampai 6 – 7 hari sesudah erupsi
semua umur, biasanya 1x seumur hidup

PATOLOGI
vesikel di epidermis + degenerasi dan badan inklusi dalam nucleus
infiltrasi sel bulat di korium dan dilatasi kapiler

GK
Inkubasi 11 – 21 hari (13 – 17 hari)
Terdapat 2 stadium :
1.         Prodormal à 24 jam sebelum kelainan kulit seperti : panas, malaise, anoreksia, bisa ada bentuk scarlatina / morbili
2.         Erupsi
-          papul merah kecil è vesikel berisi cairan jernih dengan dasar eritematous
-          Vesikel kulit dan saluran lendir à Limfadenopati umum
KOMPLIKASI
Pneumonia, Ataksia, Ensefalitis, Mialitis transfersa akut, Neuromielitis optika, Sindroma hipotalamus, Infeksi piogen pada kulit, Nistagmus, Tremor, Kelumpuhan saraf muka

PENGOBATAN
-      simptomatik : bedak salisil 1 %, jaga kebersihan, antihistamin
-      obat : asiklovir 10 mg/kgBB 5hr
-      infeksi sekunder à antibiotik

PENCEGAHAN
-      aktif à vaksinasi
-      pasif à ZIG / ZIP (zoster imunoglobin / zoster imunoprotein)












VARIOLA = SMALL POX

Bersifat akut, menular dengan gejala yang berat

ETIOLOGI : Virus variola

EPIDEMIOLOGI
Penularan langsung dan air borne

PATOLOGI
Perubahan khas di kulit, sel lendir dan organ vesikel di kulit, banyak serambi & cekungan pada umbilicus à khas
Nekrosis hati, limpa, sutul

GK
4 bagian :
1.         variola mayor
2.         variola minor (elastin) à gejala tidak berat, jarang sebabkan kematian
3.         varioloid à gejala ringan, penderita pernah vaksinasi
4.         tipe abortif à kadang – kadang tanpa erupsi kulit penderita vaksinasi tidak lama setelah kontak.




LABORATORIUM
Awal netropenia, pada stadium pustule à lekositosis pada variola
Hemoragika à trombosit

KOMPLIKASI
Infeksi piogenik pada kulit, bronkopneumonia, osteomielitis, kerusakan tulang, ensefalitis

PENGOBATAN
-      simptomatik
-      antibiotic profilaksis
-      PK 1/5000
-      Sedative / morfin
-      Transfusi darah bila perlu

PENCEGAHAN
Vaksinasi










MORBILI

DEFINISI :
-      Penyakit infeksi akut, menular, di karakteristik 3 stadium :
o  Prodormal (Kataral)    : 4-5 hari
o  Erupsi                            : 2-3 hari
o  Konvalesensi                : 7-10 hari
è biasanya menyerang anak-anak (4-8 tahun sering)

ETIOLOGI :
1.   Virus à Paramyxovirus dengan 1 tipe Ag struktur virus = virus parotitis / V. parainfluenza
2.   Pada penderita virus ini di temukan pada :
-      secret nasofaring
-      darah
-      urine
è    selama stadium prodormal
        dalam waktu singkat pada permulaan timbulnya rash
3.   Penularan :
a.   droplet
b.   kontak
c.    terutama :  stadium prodormal
24 jam setelah rash


EPIDEMIOLOGI
1.   endemis
2.   epidemis, tiap tahun, puncak tiap 2-4 tahun

PATOLOGI
1.   lesi pada kulit
2.   membran mukosa : nasofaring, bronkus, conjungtiva

MANIFESTASI KLINIK
ST INKUBASI 10 – 12 hr

ST PRODORMAL 3 – 5 hr :
-          panas ringan – sedang,

-          anorexia
-          malaise
-          batuk
-          coryza

-          conjungtivitis / photophobia
-          2 – 3 hr à koplik spot
-          kdg” berat, mulai panas tinggi 40 – 40,5oC à kejang
-          pneumonia

ST AKHIR : rash mulai dr belakang telinga, batas rambut, menghilang sesuai urutan timbulnya ( 7 – 10 hr)



DIAGNOSA
-          Gambaran klinis
-          Lab : lekopenia, relatif limfositosis
-          Isolasi virus
-          Peningkatan antibody
-          Ensefalitis : LP (Glc N, protein sdkt me , limfositosis ringan)

DD
-          toksoplasmosis
-          scarlet fever
-          penyakit riketsia
-          penyakit serum
-          rash karena obat – obatan.

KOMPLIKASI
Pneumonia, GE dehidrasi, encephalitis,otitis media, mastoiditis, cervical adenitis, purpura, abortus, aktivasi TBC, ulkus kornea, appendicitis, ggn gizi, inf kulit, septicemia.

PENCEGAHAN
-      imunisasi pasif : gama globulin
-      imunisasi aktif : vaksin morbili

PENGOBATAN
-      tanpa komplikasi  à simptomatik
-      komplikasi : sesuai dg komplikasinya.
Indikasi MRS :
1.         komplik /kmgknan komplik berat
2.         bercak merah kehitaman yg desquamasi dg squama yg lebar dan tebal
3.         suara parau, t’ut gjl penyumbatan
4.         dehidrasi
5.         kejang – kejang / kesadaran menurun
6.         PCM

PROGNOSIS
-      tanpa komplikasi à baik
-      pneumonia, GED, encephalitis, gizi jelek à jelek.
















DHF (Dengue Hemorhagic Fever)

ETIOLOGI
-      Virus Dengue tipe 1-4
-      Vektor : Aedes agypti à hidup di air jernih yang tidak berhubungan dengan tanah
-      Aedes albopictus à hidup pada tempat yang berhubungan dengan pohon-pohon
-      jarak terbang ± 100 m
-      Kepadatan penduduk tinggi

KARAKTERISTIK DHF
1.   Panas
2.   Perdarahan
3.   Pembesaran hati
4.   syok

EPIDEMIOLOGI
Infeksi Dengue :
1.   Undiferen fever
2.   Demam dengue
3.   DHF
4.   DSS





DIAGNOSA DHF/DSS à WHO 1975

1.   KRITERIA KLINIK
a.          Demam 2-7 hari
b.          Manifestasi perdarahan à manipulasi RL
spontan (purpura, petechie, ekimosis)
c.          Pembesaran hati
d.         Syok

2.   KRITERIA LABORATORIK
a.          Trombositopenia ≤ 100.000/mm3
b.          Hemokonsentrasi ≥ 20 vol%

DIAGNOSA :
2 laboratorik
2 klinik (minimal)

GEJALA KLINIK  lain yang di dapat :
1.   nyeri epigastrium
2.   muntah, diare, obstipasi
3.   kejang
4.   gejala ISPA
5.   suhu menurun secara lisis
6.   syok : sering pada suhu turun (hr 3-7 sakit), terbanyak hari ke 4-5
7.   Pend terbanyak 4-8 tahun


DERAJAT BERAT DHF :
dibagi 4 setelah KRITERIA LAB terpenuhi :
-      derajat I                 panas 2-7 hari, RL (+)
-      derajat II                (1) + perdarahan spontan
-      derajat III       (2) + syok ringan :
§  systole ≤ 90 mmHg
§  PP < 20 (=pulse pressure)
-      derajat IV      (3) + syok berat :
§  To
§  PPo
§  nadi tidak teraba
§  sianosis - asidosis

PATOGENESIS
-      Infeksi I à imunitas spesifik relatif
-      Infeksi II / > à oleh virus dengan tipe lain
   ½ - 5 tahun à DHF
à hipotesis : The sec. heterogenous Infection
à aktivasi C3 dan C5, pelepasan C3a dan C5a (bersifat anafilaktik)
à meningkatkan permeabilitas dinding PD
-      DSS berat, volume plasma menurun > 30% 924-48 jam) à terjadi anoxia jar, metab asidosis, kematian





PATOGENESIS PERDARAHAN PADA DHF
1.   Trombositopenia hebat
2.   gangguan fungsi trombosit
3.   def faktor 1.3.5.7.9.10 dan DIC
4.   DHF dini à DIC tidak menonjol.

DSS à
-      DIC menonjol
-      syok ireversibel
-      kematian

PATOFISIOLOGI :
1.   peningkatan permeabilitas pembuluh darah
2.   penurunan volume plasma (bisa > 30%)
3.   hipotensi
4.   trombositopenia
5.   diatese hemoragik
6.   hematokrit (PCV) meningkat
7.   efusi :
a.   peritoneal
b.   pleura à 77,6% DSS, 20,3% pada DHF
c.    pericardium


PENGOBATAN DHF
1.   Penggantian cairan
a.   minum 1 ½ - 2 L /24 jam
b.   teh manis, sirup, susu, oralit
2.   Obat-obatan :
a.   antipiretik             : parasetamol
b.   antikonvulsan       : kalau perlu
c.    anti virus               : tidak perlu o/k viremia hanya berlangsung 3-5 hari
d.  antasida                         : kalau perlu

PEMBERIAN CAIRAN PADA DSS
1.        Untuk mengisi volume intravaskuler :
§  RL, NaCl, Dekstrose.
§  Plasma / plasma expander
2.        Untuk mengatasi asidosis : laktat bikarbonat
3.        Untuk mengganti darah yang hilang : darah segar

PENCEGAHAN
1.         vaksin : (-)
2.         pemutusan rantai virus, aedes, manusia
a.   perlindungan :
                                                            i.      cegah gigitan aedes
                                                        ii.      kelambu
                                                     iii.      insektisida
b.   pemberantasan vector jangka panjang :
                                                            i.      pembasmian sarang aedes : kaleng. bak, dll
                                                        ii.      bila mungkin gunakan air ledeng
                                                     iii.      bahan kimia à membunuh larva : abate SG 1% 10 gr/100 ml


TIFOID (TYPHUS ABDOMINALIS)

Def :  
§  infeksi akut
§  saluran pencernaan
§  demam > 1 minggu
§  gangguan-gangguan :
o  saluran pencernaan
o  gangguan kesadaran

Patogenesis :
-      kuman masuk melalui mulut
-      di usus halus à pemb limfe à pemb darah à aliran darah à hati & limpa à berkembang biak à darah (bakteremia) kel limfoid usus halus – tukak bentuk lonjong pada mukosa
-      tukak dapat à perdarahan ; perforasi
-      gejala : GIT karena kelainan pada usus
  demam karena endotoksin

Gejala-gejala / tanda-tanda klinik :
-      gejala pada anak < dewasa
-      masa tunas : 10-20 hari (4-30 hari)
-      gejala prodormal (selama masa tunas)
S  tidak enak badan / lesu
S  nyeri kepala / pusing
S  tidak bersemangat
-      Gejala klinik :
§  demam
§  gangguan sal pencernaan
§  gangguan kesadaran
§  roseola
§  bradikardi relative (anak besar)
§  epistaksis


Demam :
-       khas 3 minggu
-       minggu I :  suhu bertahap tiap hari
pagi , sore / malam
-       minggu II:  terus demam
39-40°C
-       minggu III:  suhu bertahap
normal akhir minggu III


Gangguan sal pencernaan :
-       napas bau tidak enak
-       bibir kering
-       lidah kotor (coated tongue), tremor (jari)
-       meteorismus (kadang-kadang)
-       hati & limpa mem > , nyeri
-       BAB : konstipasi – normal – diare


Gangguan kesadaran :
-       apati-somnolen
-       jarang sopor, coma, gelisah


Roseola :
-       pada punggung / ekstremitas
-       bintik-bintik merah
-       karena embolus kuman pada ………….



Pemeriksaan penunjang diagnosa :
1.   Biakan empedu (minggu I)
2.   WIDAL :
-           (+) bila titer 0 ≥ 1/200
-           Dapat juga (+) pd : infeksi, neonatus, infeksi riketsia, immunisasi
3.   Darah tepi :
§  Lekopeni
§  Limfositosis relatif
§  Eosinofilia
§  Anemia ringan
§  Trombositopenia ringan
4.   Sumsum tulang : hiperaktif



DB :
-       influenza
-           malaria
-           TBC miliar
-           Dengue
-           Pneumonia lobaris, Bronchitis
-           Gastroenteritis
-           Sepsis
-           Leukemia

Komplikasi :
1. Pada usus :
-       perdarahan à nyeri –syok
-       perforasi , minggu ke 3 atau >
-       peritonitis : liver damping (-)
nyeri tekan (+)
defence muscular (+)

2. Diluar usus :
-      meningitis
-      cholecystitis
-      bronchopenumoni
-      dehidrasi + asidosis





Pengobatan :
1.   Suportif
-      isolasi dan desinfeksi
-      perawatan yang baik untuk cegah komplikasi
-      istirahat : sampai 2 minggu bebas panas

2.   Dietetik
-      cukup cairan, kalori, protein tinggi
-      tidak banyak serat
-      tidak merangsang

3.   Medikamentosa
-      kloramfenikol : 100 mg/kgBB/hr, 4 dosis
-      ampicillin : 100-200 mg/kgBB/hr, 4 dosis
-      trimetoprim-sulfametokxazols : 40 mg/kgBB/hr 2 dosis
-      amoxicillin : 100 mg/kgBB/hr 3 dosis


Pengobatan komplikasi :
-          medikomentosa : oral, IV
-          I.V.F.D
-          Oksigen bila perlu
-          Transfusi darah bila perlu
-          Pembedahan bila perforasi


Relaps :
-          perkambuhan kembali dp penyakit
-          20 % pd pengobatan kloramfenikol
-          10% pd pengobatan dg obat lain
-          terjadi 2 minggu setelah obat dihentikan

Carrier :
-                          klinis sembuh
-                          masih menularkan penyakit
-          kuman dalam kantong empedu
-          kuman dikeluarkan melalui urine + tinja
-          pengobatannya :
§  pembedahan kantong empedu à 80% sembuh
§  ampicillin dosis tinggi, selama 4-6 minggu

Prognosa :
-          umumnya baik, asal cepat berobat
-          mortalitas : Jakarta 6 %
-          prognosa jelek bila :
§   hiperpireksia / febris continua
§   kesadaran sangat
§   komplikasi berat
§   gizi jelek



Pencegahan :
-      memberantas carrier
-      meningkatkan hygiene – sanitasi
-      immunisasi :
dasar : 1/2 – 10 tahun, 0,25 ml SC
> 10 tahun, 0,5 ml SC
2 kali dg interval 4 minggu
ulangan ; daerah endemis
tiap 3 tahun
0,1 ml intracutan


















MALARIA

-      masalah kesehatan masyarakat
-      penanganan malaria
-      kesehatan anak
-      angka kesakitan dan †

Patogenesis :
-      Masa tunas intrinsik (9 – 30 hr)
·             Falcifarum        : 12 hari
·             Vivax / ovale    : 13 – 17 hari
·             Malariae            : 28 – 30 hari

-      Demam
·             Falcifarum
·             Vivax                 tiap 48 jam
·             Ovale
·             Malariae            tiap 72 jam

Demam
-      Prodromal

Lesu
Sakit kepala
Anoreksia
Mual
Muntah
Diare
Batuk
Nafas cepat
Kejang
Mialgia


-      Paroksismal
Menggigil     : 15 – 60 menit
Demam         : 2 – 6 jam / >
Berkeringat  : 2 – 4 jam

Splenomegali    : kronis à keras

Anemia        :
      Falcifarum                            à akut
      Vivax, ovale, malariae       à kronis

Gangguan GI :
-      mirip disentri / cholera
-      cegukan, muntah hebat
-      ikterus

Manifestasi lain :
-      nefritis, pneumonitis
-      neuritis, black water fever

Diagnosis :
-      Klinis : malaria ringan / tanpa komplikasi
-      Demam
·             asal endemis malaria
·             perjalanan 1 – 4 minggu terakhir
·             pernah dapat anti malaria
·             pembesaran limpa

·             lemah
·             sakit kepala
·             mialgia
·             sakit perut
·             mual / muntah
·             diare

-      L a b : Malaria (+)

Malaria Berat
WHO : Pl. Falc aseksual + 1 / > sbb :
-      Gangguan kesadaran
-      Anemia berat (Hb < 5 gr%)
-      Hipoglikemia (gula darah < 40 mg%)
-      Udem paru / ARDS
-      Kolaps sirkulasi, syok, hipotensi
-      GGA ( < 1 ml/kgBB/jam atau kreatinin > 3 mg%)
-      Ikterus (bilirubin ≥ 3 mg%)
-      Asidosis metabolik
-      Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, asam basa
-      Perdarahan abnormal dan gangguan pembekuan
-      Hemoglobinuria
-      Kelemahan yang berat (severe prostration)
-      Hiperparasitemia ( >5%)
-      Hiperpireksia (rectal > 400C)

DB Malaria :

1.   Septikemia
2.   ISPA
3.   Demam Tifoid
4.   Influenza
5.   Infeksi Dengue
6.   Infeksi virus lain

Komplikasi Malaria Berat

Anak
Dewasa
Khas
gangguan kesadaran
koma
distress pernafasan
hipoglikemia
anemia berat
kejang umum b’ulang
asidosis metabolik
syok
prostration
hiperparasitemia
ikterus
hiperpireksia
koma
gangguan kesadaran
GGA
udem paru
hipoglikemia
anemia berat
kejang umum b’ulang
asidosis metabolik
syok
perdarahan spontan
hemoglobinuria/BWF
prostration
hiperparasitemia
ikterus
hiperpireksia
Anak :
-   hipoglikemia
-   anemia berat

Dewasa :
-  udem paru
-  perdarahan
-  BWF


Pengobatan Malaria Klinis :

Hr
Jenis Obat
Jumlah tablet menurut kelompok umur
Dosis Tunggal
0-<2 bln
2-<12 bln
1-<4 thn
4-<10 thn
10-<15 thn
> 15 thn
1.

2.
3.
Klorokuin
Primakuin
Klorokuin
Klorokuin
¼
-
¼
1/8
½
-
½
¼
1
¾
1
½
2
1 ½
2
1
3
2
3
1 ½
3 – 4
2 – 3
3 – 4
2



Lebih teliti


 
       Obat       Hr I      Hr II        Hr III
Klorokuin basa     10 mg/kg       10 mg/kg       5 mg/kg
Primakuin basa     0,75 mg/kg        -                       -

Klorokuin (garam) 250 mg = 150 mg basa
Primakuin (garam) 25 mg = 15 mg basa


Pengobatan lini kedua

Hr
Jenis Obat
Jumlah tablet menurut kelompok umur
Dosis Tunggal
0-<12 bln
1-<4 thn
4-<10 thn
10-<15 thn
> 15 thn
1.


Kina

Primakuin

3x10 mg/kgBB
-
3 x ½

3/4
3 x 1

1 ½
3 x 1½

2
3 x 2

2  - 3
2 s/d 7
Kina
3x10 mg/kgBB
3 x ½
3 x 1

3 x 1½
3 x 2


Dosis/kgBB :
-      Kina 30 mg/kgBB/hr dibagi 3 dosis
-      Primakuin 0,75 mg/kg




Pengobatan malaria + mikroskopik Falsifarum
-      Lini I = malaria mikroskopik
-      Lini II :
Hr
Jenis Obat
Jumlah tablet menurut kelompok umur
Dosis Tunggal
0-<12 bln
1-<4 thn
4-<10 thn
10-<15 thn
> 15 thn
1.

SP
Primakuin
-
-
3/4
3/4
1 ½
1 ½
2
2
3
2  - 3

Berdasarkan BB :
-          Sulfadoksin 25 mg/kgBB / Pirimetamin 1,25 mg/kgBB
-          Primakuin 0,75 mg/kgBB

-      Lini III :
Hr
Jenis Obat
Jumlah tablet menurut kelompok umur
Dosis
0-<12 bln
1-<4 thn
4-<10 thn
10-<15 thn
> 15 thn
1.


Kina

Primakuin

3x10 mg/kgBB
-
3 x ½

3/4
3 x 1

1 ½
3 x 1½

2
3 x 2

2  - 3
2 s/d 7
Kina
3x10 mg/kgBB
3 x ½
3 x 1

3 x 1½
3 x 2





Vivax / ovale positif
Hr
Jenis Obat
Jumlah tablet menurut kelompok umur
Dosis
0-<2 bln
2-<12 bln
1-<4 thn
4-<10 thn
10-<15 thn
> 15 thn
1.


2.


3.

4 s/d 14
Klorokuin
Primakuin

Klorokuin
Primakuin

Klorokuin
Primakuin
Primakuin
¼
-

¼
-

1/8
-
-
½
-

½
-

¼
-
-
1
1/4

1
¼

½
¼
¼
2
 ½

2
½

1
½
½
3
¾

3
¾

1 ½
¾
¾
3 – 4
1

3 – 4
1

2
1
1

Tatalaksana Malaria Berat
1.         Anamnesis lengkap
2.         Pemeriksaan fisik
3.         Pemeriksaan lab penunjang

Masalah :
-      Diagnosa
-      Kecepatan terjadinya
-      Rentan : hipoglikemia, kejang, dehidrasi, asidosis
-      Ke(-)an fasilitas
-      Adanya parasitemia asimptomatik
-      Berbagai komplikasi



Di tingkat Puskesmas :
·             Tindakan umum
-      Jaga jalan nafas
-      Cairan + perawatan vital
-      Tanda-tanda vital
-      Sediaan tebal
-      Hipotensi à Tredelenberg
-      Kondisi menurun à rujuk
-      Status penderita lengkap
·             Pengobatan simptomatik
-      Anti piretik
-      Anti konvulsan bila perlu
·             Obat anti malaria spesifik
-      Kina HCl drips / Kina antipyrin
-      SP

Malaria Serebral
-          unrousable coma
-          disertai 1/>
ensefalopati, kejang umum / fokal, tonus otot ↑/↓, plantar fleksi/ekstensi, rahang mengatup + gigi kretekan, mulut mencucu, deserebrasi / dekortikasi rigidity, kadang neurologist fokal, manif ocular, kaku kuduk ringan, LCS : protein ± ↑.


Prinsip penatalaksanaan :
-      sama dengan malaria berat
-      perhatikan :
      perawatan penderita tidak sadar
      pengobatan simptomatik
      deteksi dini + pengobatan komplikasi
      waspada infeksi bakteri / pneumonia
-      perawatan penderita tidak sadar :
-          grafik suhu, nadi, pernafasan
-          kateter urethra
-          IVFD
-          lindungi mata
-          jaga kebersihan rambut
-          rubah posisi regular

Hipoglikemia (gula darah < 40 mg%)
-      sering < 3 tahun, dengan / tanpa Kina
-      curigai bila : perubahan kesadaran, abnormal behaviour, konvulsi, syok / asidosis
-      Koreksi :
§  glukosa 40% IV bolus 1 ml/kgBB
§  infus glukosa 10%/5% atau gula NGT
§  monitoring gula darah tiap 4 – 6 jam




Anemia Berat :
Pucat, takikardi, dispneu, kejang, gelisah, koma, perdarahan retina, suhu kulit + rectal, irama gallop, gagal jantung, edema paru
Hb < 5 gr/dl atau PCV < 15
Tindakan :
-      PRC 10 ml/kgBB atau
-      darah segar 10 – 20 mg/kgBB
-      furosemid 1 -  2 mg/kgBB


Kolaps sirkulasi, syok hipovolemia, hipotensi, algid malaria dan septikemia
-      systole < 50 mmHg
-      kulit dingin, 38 – 40 0C, sianosis, mata cekung, nafas cepat, nadi cepat, nyeri ulu hati, muntah / diare
-      Tindakan :
1.         rehidrasi dengan NaCl 0,9%
2.         bila perlu plasma expander
3.         bila perlu dopamine 3 – 5 mcg/kgBB/menit
4.         CVP / balans cairan
5.         gula darah
6.         biakan darah + sensitivitas



Distress Pernafasan
-      penyebab terbanyak asidosis metabolik
-      Bila Hb < 5gr% à transfusi 20 ml/kgBB
Hb > 5 gr% à kristaloid
-      CVP bila perlu
-      pH < 7,15 à NaBic 1 ml/kgBB

Ikterus
-      bilirubin < 3 mg%
-      Bila hemolisis à transfusi darah
-      Kina ½ dosis
-      Diet tinggi kalori, rendah lemak
-      Raborantia = vit B C
-      Bila perlu à rujuk

Asidosis Metabolik
-      NaBic 1 ml/kgBB
-      sesak à O2
-      sesuai penyebabnya
-      bila perlu à rujuk

Dehidrasi
Klinik :
perfusi perifer, nafas dalam, turgor kulit
urea darah, sangat halus, BB 3 – 10 %, oliguria, BD urin
Penatalaksanaan : rehidrasi
Hiperpireksia
Klinik :
suhu ≥ 42 0C
kejang
dehidrasi, koma
Penatalaksanaan :
pantau suhu
> 39 0C à kompres, paracetamol

Hiperparasitemia
Klinik :
penyakit berat
parasit ≥ 5%
Penatalaksaan :
anti malaria IV/IM
transfusi tukar / sebagian
parasitemia > 10%

Prostration :
Klinik :
kencing hitam
anemia
def G6PD
Primakuin / kina
Penatalaksanaan : transfusi, dialisis, obat malaria


Pengobatan Malaria Berat
-          Kina KCl
20 mg/kgBB IV 4 jam
8 – 12 jam 10 mg/kgBB IV 4 jam
oral 3 x10 mg/kgBB à 7 hari
-          Fansidar / Suldox / Metakelfin : 25 mg/kgBB
-          Meflokuin : 15 mg/kg, maks : 1000 mg; 2 dosis
-          Halofantrin : 8 mg/kgBB tiap 6 jam à 3 dosis
-          Kuinidin :
-      15 mg/kgBB IV 4 jam
-      7,5 mg/kgBB IV tiap 8 jam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar